otonya ini akan membantunya merangkak dengan cepat.
hanya sederhana, dan sangat sederhana. hanya sebuah blog dari seseorang yg sedang belajar dan terus belajar... :))
Rabu, 09 Maret 2011
Perkembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini melalui Bermain
otonya ini akan membantunya merangkak dengan cepat.
Teori Kognitif
Kamis, 21 Oktober 2010
PENGERTIAN PAUD
PAUD adalah ....
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
PAUD merupakan salah satu jenis Pendidikan luar Sekolah (PLS) termasuk pada satuan kelompok belajar tetapi bukan merupakan persyaratan masuk TK atau SD.
PAUD merupakan salah satu bentuk usaha kesejahteraan anak dengan mengutamakan kegiatan bermain yang menyelanggarakan pendidikan prasekolah bagi anak usia 3 tahun sampai memasuki Pendidikan Dasar (Penjelasan Pemerintah Republik Indonesia No.27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah Pasal 6, ayat 1)
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini adalah sebuah jurusan yang mendidik anak-anak yang masih berusia dini atau masih berumur 5 sampai 10 tahun.
PAUD adalah pendidikan luar sekolah seperti Kelompok Bermain dan Penitipan Anak, yang umumnya berjalan sendiri-sendiri dengan polanya masing-masing, sedangkan PADU adalah pendidikan sekolah seperti Taman Kanak-kanak (TK), yang sudah mulai dibina dan diasuh oleh Depdiknas.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang intelektualitas anak demi mempersiapkan mereka masuk sekolah
Suatu Proses pembinaan tumbuh kembang anak sejak lahir hingga usia 6 th secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik & non fisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani, motorik, akal fikiran, emosional dan sosial yang tepat dan benar, agar tumbuh dan berkembang secara optimal.
LANDASAN PENDIDIKAN
LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN
A. Individu, Masyarakat, dan Kebudayan
Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki pebedaan yang unik, serta bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung jawabnya sendiri (otnom). Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerja bersama sebagai kesatuan sosial yang menghasilkan kebudayaan. Empat unsur masyarakat , yaitu :
1. Manusia yang hidup bersama
2. Adanya interaksi sosial yang cukup lama
3. Mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan
4. Menghasilkan kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan mililk diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1985).Terdapat tiga jenis wujud dari kebudayaan, yaitu :
1. Sebagai satu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dsb
2. Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
3. Sebagai benda-benda hasil karya manusia
Antara individu, masyarakat, dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana kita maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat terbentuk dari individu.
Untuk memenuhi kebutuhan, setiap individu maupun kelompk melakukan interaksi sosial yang didalamnya melakukan berbagai tindakan sosial, yaitu perilaku individu dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain. Masyarakat menuntut hal tersebut tiada lain agar tercipta konformitas, yaitu bentuk interaksi yang didalamnya setiap individu berperilaku terhadap individu lainnya sesuai yang diharapkan masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan tingkah laku. Apabila terjadi penyimpangan tingkah laku, maka masysarakat akan mengucilkannya bahkan melakukan pengedalian sosial (social control), yaitu apa yang didefinisikan Peter L. Berger sebagai cara masyarakat untuk menertibkan anggotanya.
B. Pendidikan : Sosialisasi dan Enkulturasi
Ditinjau dari sudut masyarakt, sosialisasi dan enkulturasi merupakan fungsi masyarakat dalam rangka mengantarkan setiap individu ke dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Dari sudut individu, dalam proses sosialisasi dan enkulturasi setiap individu sesuai dengan staatusnya dituntu untuk belajar tentang berbagai macam peranan dalam konteks kebudayaanmasyarakatnya, sehingga mereka mampu hidup berbudaya dan bermasyarakat.
Menurut Peter L. Berger “sosialisasi adalah proses anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisiapsi dalam masyarakat. Sedangkan enkulturasi adalah proses individu belajar cra berpikir, bertindak yang mencerminkan kebudayaan masyarakat.
Dalam kehidupan riil, sosialisasi inherent dengan kebudayaan , sebab kebudayaanlah yang menentukan arah dan cara- cara sosialisasi yang dilaksanakan masyarakat. Karena itu, proses sosialisasi terjadi juga proses enkulturasi (pembudayaan). Dari sudut sosiologi, dan pendidikan identik dengan sosialisasi. Sedangka dari sudut antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi.
C. Pendidikan Sebagai Pranata Sosial
Pranata sosial adalah perilaku terpola yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pranata pendidikan merupakana salah satu pranata sosial dalam prses sosialisasi dan/atau enkulturasiuntuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya, serta menjaga kelangsungan eksistensinya.
D. Pendidikan Informal, Formal, dan Nonformal
1. Pendidikan Informal
Pendidikan Informal adalah pendidikan yang berlangsung secara wajar di lingkungan hidup sehari-hari. Contohnya di dalam keluarga, pergaulan anak sebaya, dll. Pengetahuan yang dipelajari contohnya sikap, norma-norma, nilai-nilai, adat kebiasaan keterampilan.
a. Pendidikan Informal dalam Keluarga
Tujuan dari pendidikan dalam keluarga ialah agar anak menadi pribadi yang mantap, bermoral dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Sedangkan fungsinya sebagai peletak dasar dan persiapan ke arh kehidupan anak dalam masyarakatnya.
Keluarga merupakan Lingkungan pendidikan yang bersifat informal, artinya suatu keluarga dibangun bukan pertama-tama sebagai pranata pendidikan. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga berlangsung tidak dengan cara-cara formal an artificial, melainkan melalui cara dn suasanan yang wajar.
b. Pendidikan Informal dalam Masyarakat
Berlangsung melalui adat kebiasaan, upacara adat, permainan, pagelaran kesenia yang mengandung pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma, sikap keterampilan, dll.
2. Pendidikan Formal (Sekolah)
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Komponen utama sekolah, yaitu :
1) Peserta Didik
2) Guru
3) Kurikulum
Redja Mudyahardjo (Odang Muchtar, 1991) mengemukakan bahwa sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah mempunyai karakteristik :
1) Sekolah mempunyai fungsi tugas atau fungsia khusus dalam pendidikan untuk mencapai tujuan kurikuler (intern) dan mencapai tuuan institusional (ekstern).
2) Sekolah mempunyai tatanan nilai dan norma
3) Sekolah mempunyai program yang terorganisasi dengan ketat
4) Kredensials dipandang penting baik dalam penerimaan siswa baru maupun untuk menunjukkan bukti kelulusan
Beberapa fungsi pendidikan sekolah ialah sebagai tranmisi kebudayaan masyarakat sebagai sosialisasi, sebagai intregasi sosial, pengembanga kepribadia anak, persiapan untuk suatu pekerjaan, dan pentranformasian masyarakat dan kebudayaan.Perbedaan aturan yang dipelajari anak di sekolah dan di keluarga menurut Robert Dreeben (1968) terletak pada kemandirian (independence),prestasi (achievement), universalisme, dan specifity.
3. Pendidikan Nonformal
Pendidikan Nonformal ialah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang yang biasanya terjadi di pelatihan, lembaga kursus, kelompk belajar, pusat kegiatan masyarakat, majelis taklim, dll.Pendidikan nonformal berfungsi mengembangjan poternsi pesarta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilam fungsinal seta pengembangan sikap dn kepribadian professional.
Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidiakan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pembedayaan perempuan,pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikankesetaraan.
E. Pendidikan, Masyarakat, dan Kebudayaaan
Terdapat hubungan timbal balik antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Masyarakat dan kebudayaannya menyediakan atau memberikan sumber-sumber input bagi pranata pendidikan dan menerima output dari pranata pendidikan. Dua fungsi utama pranata pendidikan yaitu :
a) Fungsi Konservasi
Pranata pendidikan berfungsi untuk mewariskan atau melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat dan atau mempertahankan kelangsungan eksistensi masyarakat.
b) Fungsi Inovasi/Kreasi/Transformasi
Pranata pendidikan berfungsi untuk melakukan perubahan dan pembaharuan masyarakat masyarakat beserta nilai-nilai budayanya.
F. Pola – Pola Kegiatan Sosial Pendidikan
1. Pola Nomothetis
Pola Nomothetis mengutamakan fungsi dimensi tingkah laku yang bersifat normative/nomothetis daripada fungsi tingkah laku ideografis. Tingkah laku pendidik dan pesrta didik akan lebih mengutamakan tuntutan-tuntutan institusi, peranan-peranan yang seharusnya, dan harapan-harapan sosial.Pendidikan berdasarkan pola nomothetis mempunyai pengertian sebagai sosialisasi kepribadian dan dipandang sebagai upaya pewarisan nilai-nilai sosial kepada generasi muda.
2. Pola Ideografis
Pendidikan mempunyai pengertian sebagai personalisasi peranan yaitu upaya membantu seseorang untuk mengetahui dan mengembangkan pengetahuan.
3. Pola Transaksional
Lebih mengutamakan keseimbangan berfungsinya dimensi tingkah laku nomothetis dan tingkah laku ideografis. Berdasarkan pola ini, pendidikan dipahami sebagai suatu system sosial yang mempunyai ciri :
• Mengenal tujuan-tujuan system
• Harapan sosial bersifat rasional
• Individu mempunyai kelompok dengan suasana emosional yang sama
G. Pola Sikap Guru kepada Siswa dan Implikasinya terhadap Fungsi dan Tipe Guru
David Hargreaves mengemukakan tiga kemungkinan pola sikap guru terhadap muridnya serta implikasinya terhadap fungsi dan tipe/kategori guru :
• Guru berasumsi bahwa muridnya belum menguasai kebudayaan, sedangkan pendidikan diartikan sebagai enkulturasi (pembudayaan). Implikasinya maka tugas dan fungsi guru adalah menggiring muridnya untuk mempelajari hal-hal yang dipilihkan guru. Tipe guru ini dinamakan sebagai penjinak atau penggembala singa
• Guru berasumsi bahwa muridnya mempunyai dorongan untuk belajar yang harus menghadapi materi yang baru, cukup berat dan kurang menarik. Implikasinyatugas guru adalah membuat pengajaran menjadi menyenangkan, menarik, an mudah. Tipe guru ini dinamakan sebagai penghibur atau “entertainer”.
• Guru berasumsi bahwa muridnya mempunyai dorongan belajar ditambah dengan harapan mampu menggali sumber belajar. Implikasinya guru harus memberikan kebebasan yang cukup luas kepada murid. Tipe guru ini dinamakan sebagai guru romantik.
Rabu, 20 Oktober 2010
Pengertian Kurikulum
Menurut UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidika Nasional Pasal 1 ayat 19
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut buku Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah
Pengarang : Dr. h. Nana Sudjana Tahun : 2005
Kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang di harapkan yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, di berikan kepasa siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan atau perkembangan pribadi dan kompetensi social anak didik.
Menurut Saya
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disusun dan di buat sedemikian rupa guna meningkatkan mutu pendidikan dan sekolah atau lembaga lain ikut bertanggung jawab atas jalannya kurikulum tersebut.
Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam
bagian :
(1) kurikulum sebagai ide;
(2) kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan
panduan dalam melaksanakan kurikulum;
(3) kurikulum menurut persepsi pengajar;
(4) kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar
di kelas;
(5) kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan
(6) kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.
Judul : Kurikulum dan Pengajaran Tahun : 2008
Pengarang : Prof. Dr. S. Nasution, M. A. Halaman : 5
Penerbit : Bumi Aksara
Kurikulum : suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.
Kurikulum : adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal.
Judul : Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah
Pengarang : Dr. h. Nana Sudjana Tahun : 2005
Penerbit : Sinar Baru Algensindo Halaman : 3,4,5,7,17
Kurikulum : niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah.
Kurikulum adalah niat dan rencana, proses belajar mengajar adalah pelaksanaanya. Dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat yakni guru dan siswa. Siswa adalah subjek yang dibina dan guru adalah dubjek yang membina.
Curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.
Kurikulum adalah program belajar bagi siswa yang disusun secara sistematis dan logis, di berikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai program belajar, kurikulum adalah niat, rencana atau harapan.
Kurikulum adalah hasil belajar yang diniati atau intended learning out comes.
Kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang di harapkan yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, di berikan kepasa siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan atau perkembangan pribadi dan kompetensi social anak didik.
Kurikulum adalah rencana atau program belajar dan pengajaran adalah pelaksanaan atau operasionalisasi dari rencana atau program.
Kurukulum adalah alat atau saran untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pengajaran.
Kurikulum adalah sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan untuk anak didik. Artinya, hasil belajar yang diinginkan yang diniati agar dimiliki anak.
Judul :Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek Tahun : 2005
Pengarang : Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata Halaman : 4,5,6
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya, Bandung
(Ronald. C. Doll, 1974, Hal 22) The commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of course of study and list of subject and courses to all the experience which are offered to learnes unders the auspises or direction of the school.
(Johnson, 1967, hal 130) Kurikulum….a structured series of itended learning out comes.
Kurikulum (curriculum) merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
(Beauchamp, 1968, hal 6) A curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is the plant for education of pupils during their enrollment in given school. Beauchamp lebih memberikan tekanan behwa kurikulum adalah siatu rencana pendidikan atau pengajaran.
Caswel dan Chambell dalam buku mereka yang terkenal Curriculum Development (1935), kurikulum….to be composed of all experience children have a under the guidance of teacher.
Zais menjelaskan bahwa kurikulumbukan hanya merupakan rencana tertulis begi pengajaran, melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang memberi pedoman dan mengatur lingnkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas.
Menurut Robert S. Zais (1976, hal 3), kurikulum sebagai bidang studi mencakup :1. The range of subject matters with which it is concerned (the substantive structure), and 2. The procedures of inkiuri and practice it follows (the syntactical structure).
Menurut George A. Beaucham (1976 hal 58-59), kurikulum sebagai bidang studi membentuk suatu teori yaitu teori kurikulum. Selain sebagai bidang studi kurikulum juga sebagai rencana pengajaran dan sebagai suatu sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan.
Judul :Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pengarang : Dr. Wina Sanjaya, M. Pd.
Tahun : 2005
Halaman : 2-5
Pengertian kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran dapat ditemukan dari definisi yang dikemukakan oleh Robert M. Hutchins (1936) yang menyatakan :
The curriculum should include grammar, reading, the toric and logic, and mathematic and addition at the secondary level introduce the great books of the western world.
Pengertian kurikulum sebagai pengalaman belajar mengandung makna bahwa kurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik diluar maupun di dalam sekolah asal kegiatan tersebut berasa di bawah tanggung jawab guru (sekolah).
Dorris Lee dan Murray Lee (1940), menyatakan kurikulum sebagai : Those experience of the child which the school in any way utilizes or attepts to influence.
H.H. Giles S. P, Mc Chutcen dan A. N Zechiel: The curriculum…The total experience with which the school deals in educating young people.
Romine (tokoh pendidikan) 1945
Curriculum interpreted to mean all of the organized courses, activities and experience which pupils have under direction of school wether in the class room or not.
Saylor and Alexander (1956)
The curriculum is the sum total of schools efforts to influence learning, wheter in class room, on the playground, or out of school.
Kurikulum sebagai rencana atau program belajar, Hilda Taba (1962):
A curriculum is a plan for learning therefore, whai is know about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of the curriculum.
Donald E. Orlasky, Othanel Smith (1978) dan Peter F. Olivva (1982) kurikulum pada dasarnya adalah sebuah perencanaan atau program pengalaman siswa yang diarahkan sekolah.
http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/16/134-pengertian-kurikulum-lengkap/
Komponen Kurikulum
komponen kurikulum yakni :
a. Perubahan dalam tujuan
Perubahan ini didasarkan kepada pandangan hidup masyarakat dan falsafah bangsa. Tanpa tujuan yang jelas, tidaka akan membawa perubahan yang berarti, dan tidak ada petunjuk ke mana pendidikan diarahkan.
b. Perubahan isi dan struktur
Perubahan ini meninjau struktur mata pelajaran -mata pelajaran yang diberikan kepada siswa termasuk isi dari setiap mata pelajaran. Perubahan ini dapat menyangkut isi mata pelajaran, aktivitas belajar anak, pengalaman yang harus diberikan kepada anak, juga organisasi atau pendekatan dari mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Apakah diajarkan secara terpisah-pisah (subject matter curriculum), apakah lebih mengutamakan kegiatan dan pengalaman anak (activity curriculum) atau diadakan pendekatan interdisipliner (correlated curriculum) atau dilihat proporsinya masing-masing jenis ; mana yang termasuk pendidikan umum, pendidikan keahlian, pendidikan akademik dan lain-lain
c. Perubahan strategi kurikulum
Perubahan ini menyangkut pelaksanaan kurikulum itu sendiri yang meliputi perubahan teori belajar mengajar, perubahan sistem administrasi, bimbingan dan penyuluhan, perubahan sistem penilaian hasil belajar.
d. Perubahan sarana kurikulum
Perubahan ini menyangkut ketenagaan baik dari segi kualitas dan kuantititas, juga sarana material berupa perlengkapan sekolah seperti laboraturium, perpustakaan, alat peraga dan lain-lain
e. Perubahan dalam sistem evaluasi kurikulum
Perubahan ini menyangkut metode/cara yang paling tepat untuk mengukur/menilai sejauh mana kurikulum berjalan efektif dan efesien, relevan dan produktivitas terhadap program pembelajaran sebagai suatu system dari kutikulum.
Menurut Zahara Ideris (1982) yang dikutip oleh Subandijah (1993 : 77 ) mengemukakan masalah-masalah yang menuntut adanya inovasi pendidikan dan kurikulum di Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Perkembangan ilmu pengetahuan yang menghasilkan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politil, pendidikan dan kebudayaan.
b. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung ruang dan fasilitas pendidikan sangat tidak seimbang.
c. Mutu pendidikan yang dirasakan semakin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
d. Kurang adanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun
e. Belum berkembangnya alat organisasi yang efektif serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
4. Akibat-Akibat dari Pembaharuan Kurikulum Sekolah
MENGAPA KURIKULUM BERUBAH
A.Latar Belakang
Referensi: